Data Utama Feature Jatim Madura Sumenep

Kisah Haru Ketua Komisi I DPRD Sumenep Menyapa Sang Pendidik di Pulau Masalembu

SUMENEP, beritadata.id – Di sudut Pulau Masalembu yang jauh dari hiruk-pikuk kota, sebuah pertemuan sederhana berubah menjadi momen penuh haru pada Peringatan Hari Guru Nasional, Selasa 25 November 2025.

Ketua Komisi I DPRD Sumenep, Darul Hasyim Fath, kembali ke kampung halamannya, menyambangi rumah gurunya, Ustadz Halili, sosok yang membentuknya sejak remaja untuk menyampaikan terima kasih yang tak terhingga.

Perjalanan Darul menuju Dusun Tengah, Desa Masalima, bukan sekadar kunjungan formal. Ia membawa seperangkat alat salat dan bingkisan sederhana, tanda penghormatan bagi guru yang telah menanamkan nilai keikhlasan, kedisiplinan, dan fondasi ilmu yang mengantarnya menjadi seorang pemimpin.

 Ketika tiba di rumah kayu sederhana itu, Ustadz Halili yang mulai menua menyambutnya dengan senyum hangat, senyum yang sama yang dulu menyambutnya di ruang kelas Madrasah Tsanawiyah DDI Raas II Masalembu.

Di hadapan sang guru, Darul menunduk hormat. Baginya, jabatan hanyalah amanah yang datang dan pergi, tetapi guru adalah cahaya terang yang tidak akan pernah mati.

“Saya tumbuh karena keikhlasan para guru. Tidak ada yang namanya mantan guru. Mereka adalah suluh hidup kami,” ujarnya lirih namun mantap.

Ia mengingat kembali bagaimana sosok-sosok pendidik di masa kecilnya membentuk karakter dan keberaniannya. Semua pencapaiannya hari ini, katanya, bukan miliknya semata, melainkan buah dari ketulusan para guru yang dulu sabar membimbingnya.

Ustadz Halili, yang kini termakan usia tetap bersinar dengan kewibawaan seorang pendidik, mengenang Darul sebagai siswa dengan kecerdasan yang menonjol dan jiwa kepemimpinan yang sudah tampak sejak dini.

“Darul itu cepat tanggap, aktif, dan selalu tampil di forum musyawarah. Dari dulu sudah kelihatan kecakapannya,” kenangnya sambil tersenyum.

Namun bukan hanya kepintaran muridnya yang diingat sang guru. Ia juga menyimpan rasa syukur kepada keluarga Darul yang dulu mempercayakannya sepenuhnya untuk mendidik putra mereka.

“Orang tuanya dulu pasrah kepada saya dalam mendidik Darul. Itu amanah besar,” ucapnya penuh rasa haru.

Pertemuan itu berlangsung hangat, sederhana, namun sarat makna. Di tengah kepulauan yang terpencil, Hari Guru Nasional menjadi pengingat bahwa hubungan seorang murid dan guru tak pernah berakhir.

Ada rasa hormat yang tumbuh, ada kenangan yang tak pudar, dan ada nilai kemanusiaan yang terus hidup melampaui profesi, jabatan, dan waktu. Bagi Darul, pulang ke rumah gurunya adalah pulang ke akar dirinya sendiri tempat ia pertama kali belajar menjadi manusia. (*/zn)

Leave a Comment