
BANGKALAN, beritadata.id — Rencana pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD-GEMAS) Kabupaten Bangkalan menjadi perhatian publik. Salah satu hal yang ramai diperbincangkan adalah adanya sumbangan kegiatan sebesar Rp350 ribu per SPPG bagi mitra yang berkenan berpartisipasi.
Menanggapi berbagai persepsi tersebut, Ketua HMD-GEMAS Kabupaten Bangkalan, H. Nur Hasan, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa kegiatan yang digelar pada Rabu (23/9/2026) di Pendopo Pratanu Kabupaten Bangkalan tersebut tidak memiliki tujuan lain selain memperkuat silaturahmi, kekompakan, sinergi, sekaligus mendorong perbaikan tata kelola dapur SPPG dalam pelaksanaan program MBG.
Menurut Nur Hasan, keberadaan HMD-GEMAS berangkat dari kebutuhan para mitra untuk memiliki wadah bersama. Selama ini, ketika muncul persoalan dalam pelaksanaan program MBG, masing-masing mitra dinilai masih menghadapi persoalan secara sendiri-sendiri.
“Tujuan pertama tentu silaturahmi. Kemudian untuk memupuk kekompakan antar-mitra MBG yang ada di Kabupaten Bangkalan. Selama ini ketika ada masalah terkait MBG, seolah-olah kita berjalan sendiri-sendiri,” ujar Nur Hasan.
Ia menjelaskan, melalui forum tersebut para mitra diharapkan dapat membangun komunikasi yang lebih baik sekaligus saling bertukar pengalaman mengenai pengelolaan dapur.
Menurutnya, perbaikan tata kelola menjadi bagian penting karena operasional SPPG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan, tetapi juga menyangkut standar kebersihan, keamanan pangan, administrasi, pengelolaan sumber daya, hingga kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
“Makanya perlu adanya wadah atau organisasi yang bisa mempersatukan para mitra MBG ini. Ketika kita sudah sejalan, maka ketika ada masalah kita tidak merasa sendirian. Di sisi lain, kita juga ingin tata kelola dapur semakin baik, sehingga pelaksanaan MBG bisa berjalan sesuai ketentuan,” katanya.
Bukan Sekadar Silaturahmi
Nur Hasan menegaskan, FGD tersebut bukan sekadar agenda berkumpul antar-mitra. Forum itu juga dirancang menjadi ruang pembelajaran dan evaluasi bersama untuk meningkatkan kualitas pengelolaan SPPG.
Para mitra dapat memperoleh informasi langsung dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam program MBG, sekaligus menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan.
“Jadi akan banyak ilmu yang kita dapat dalam acara tersebut. Kita ingin para mitra memahami bagaimana tata kelola dapur yang baik, apa saja yang harus dipenuhi dan bagaimana ketika menghadapi persoalan di lapangan,” jelasnya.
Ia berharap, semakin baik tata kelola masing-masing dapur, semakin kecil pula potensi munculnya persoalan dalam pelaksanaan program MBG.
Bangun Sinergi dengan Pemerintah
Aspek penting lainnya dalam FGD tersebut adalah membangun komunikasi dan sinergi antara mitra MBG dengan pemerintah.
Baik Pemerintah Kabupaten Bangkalan maupun jajaran yang menangani program MBG di tingkat wilayah, menurut dia, perlu memiliki ruang komunikasi dengan para mitra agar berbagai persoalan pelaksanaan program dapat dibahas secara terbuka.
Dalam FGD tersebut, HMD-GEMAS juga mengundang unsur Satgas MBG Bangkalan dan Dinas Kesehatan yang berkaitan dengan pemenuhan persyaratan kesehatan serta Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Selain itu, agenda tersebut dirancang menghadirkan pemateri dari unsur Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) wilayah Jawa Timur.
“Kalau kita sudah bisa bersinergi dan saling mengenal, ketika ada masalah harapannya bisa diselesaikan dengan cara-cara yang lebih baik,” jelasnya.
Nur Hasan juga menyoroti kondisi sejumlah SPPG yang saat ini menghadapi penghentian sementara atau suspend. Menurutnya, tidak ada mitra yang menginginkan dapurnya mengalami kondisi tersebut.
“Saya yakin tidak ada SPPG yang mau di-suspend. Oleh karena itu, harapannya ke depan dengan terselenggaranya acara ini, pihak yang berwenang bisa lebih mempertimbangkan kearifan lokal yang ada, sehingga ketika ada persoalan bisa dikomunikasikan dan dicarikan solusi dengan baik,” tuturnya.
Terkait adanya nominal sumbangan Rp350 ribu per SPPG dalam undangan kegiatan, Nur Hasan menegaskan bahwa kontribusi tersebut bersifat sukarela dan bukan kewajiban.
Ia menyebut dana tersebut dipersiapkan untuk mendukung kebutuhan konsumsi dan akomodasi selama kegiatan berlangsung.
“Acara ini sifatnya sukarela. Sama sekali tidak ada paksaan. Bagi yang mau hadir dan memberikan sumbangan, alhamdulillah. Bagi yang mau hadir tetapi tidak berkenan menyumbang, tidak ada masalah,” tegasnya.
Begitu pula, menurutnya, mitra yang memilih tidak menghadiri kegiatan tidak akan dipersoalkan.
“Bagi yang tidak mau hadir juga tidak apa-apa. Saya mengerti bahwa dalam gerakan apapun pasti ada pro dan kontra. Itu hal yang biasa,” imbuhnya.
Dalam surat undangan HMD-GEMAS tertanggal 15 September 2026, kontribusi kegiatan disebut sebesar Rp350.000 per SPPG, dengan keterangan digunakan untuk mendukung kegiatan. Sementara surat Sekretariat Daerah Kabupaten Bangkalan tertanggal 18 September 2026 mencantumkan FGD tersebut sebagai agenda yang ditindaklanjuti Pemerintah Kabupaten Bangkalan, dengan pelaksanaan di Pendopo Pratanu pada Rabu, 23 September 2026, mulai pukul 12.00 WIB.
Nur Hasan kembali menegaskan bahwa FGD tersebut diarahkan untuk memperkuat komunikasi antar-mitra, memperbaiki tata kelola dapur, meningkatkan pemahaman terhadap ketentuan program, serta membangun hubungan yang lebih baik dengan pemerintah.
“Saya tegaskan kembali bahwa acara ini murni demi kebaikan kita bersama. Tidak ada maksud dan tujuan apa-apa. Kita ingin mitra semakin kompak, tata kelola dapur semakin baik dan sinergi dengan pemerintah semakin kuat,” pungkasnya. (Red)

Leave a Comment