
SUMENEP, beritadata.id – Ketua Pusat Studi Bung Karno (PSBK) Madura menilai perlombaan di bulan Agustus bukan sekadar hiburan, akan tetapi juga memiliki nilai yang dapat ditransformasikan ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kata dia, gelaran lomba di bulan Agustus mengajarkan nilai-nilai kemasyarakatan, seperti kebersamaan, kekompakan dan fairness.
“Perlombaan di bulan Agustus ini bukan sekadar seremoni memperingati Hari Kemerdekaan, tapi juga ada nilai yang tersemai, seperti kebersamaan, kekompakan dan sikap fair. Sikap menghargai dan menghormati pada sesama,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan, pada ranah yang lebih besar, perlombaan agustusan ini diharapkan menumbuhkan, menguatkan rajutan tali kebangsaan. Menurutnya, perlombaan agustusan harus direfleksikan sebagai manifestasi makna lain kemerdekaan.
“Kalau di zaman penjajahan semuanya serba terbatas. Mau main sepakbola, mau sekolah, semuanya terbatas. Nah, di zaman kemerdekaan inilah, kita bisa melakukan apa saja. Kita bisa mengurus diri sendiri secara mandiri,” terangnya.
“Artinya, perlombaan agustusan itu harus merefleksikan makna kemerdekaan itu sendiri, makna kedaulatan kita sebagai satu bangsa yang berdulat dan merdeka,” imbuhnya.
Dosen Universitas PGRI Sumenep itu juga menekankan pentingnya mengingat, mengenangkan dan meneladani jasa para pahlawan.
“Kalau kata Bung Karno Jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Jangan lupakan jasa para pahlawan kita. Karena tersebab perjuangan mereka, pengorbab mereka, kita bisa merdeka, bisa menggelar perlombaan di bulan Agustus ini,” jelasnya.
Selain itu, Salamet juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mentranformasikan nilai dan semangat nasionalisme pada upaya-upaya nyata di dalam memajukan bangsa dan negara.
“Nasionalisme ini hari ini bukan lagi sekadar cinta Tanah Air melawan penjajah, melawan imperialisme, melawan neo-kolonialisme. Lebih dari itu, nasionalisme harus menjadi nilai yang mendasari kita dalam berbuat baik untuk negara ini, untuk bangsa ini sesuai peran kita,” terangnya.
“Para pelajar harus belajar sebaik-baiknya, guru harus mengajar sebaik-baiknya. Anggota dewan harus bekerja sesuai tupoksinya. Para Aparatur pemerintah harus mampu memberikan pelayanan sebaik-baiknya untuk masyarakat. Mereka harus punya komitmen untuk menyelenggarakan pemerintahan yang bersih dan tidak korupsi. Karena sejatinya nasionalisme hari ini adalah memainkan peran kita sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama yang lebih baik,” tandas alumni Pascasarjana UGM Yogyakarta ini. (*)

Leave a Comment