
Oleh: AGUSSALIM

OPINI, beritadata.id – Razia kendaraan bermotor yang dilakukan oleh polisi Kabupaten Bangkalan belakangan ini menimbulkan gelombang protes dari masyarakat, terutama mereka yang tinggal di pelosok desa. Bukan karena mereka tak paham hukum, tapi karena mereka merasa dihantam oleh ketegasan yang terasa mendadak, musiman, dan minim empati.
Polisi datang hingga ke pelosok, menyisir jalan-jalan kecil, menghentikan warga yang berkendara dengan surat-surat tak lengkap atau pelat nomor yang telah mati. Lalu tanpa banyak kompromi, kendaraan langsung diangkut. Tak peduli apakah itu satu-satunya sepeda motor milik keluarga, tak peduli apakah kendaraan itu digunakan untuk mengangkut rumput, mencari nafkah, atau mengantar anak sekolah. Pokoknya, tidak lengkap, maka diangkut.
Benar, hukum memang harus ditegakkan. Tidak ada yang menyangkal bahwa mengendarai motor tanpa kelengkapan surat adalah pelanggaran. Namun di atas hukum, ada hal lain yang jauh lebih tinggi nilainya: empati. Polisi seharusnya tak hanya menjadi penegak hukum, tapi juga pelindung dan pengayom masyarakat. Ketika aturan ditegakkan tanpa nurani, yang terjadi bukan keadilan, melainkan ketakutan dan ketimpangan rasa.
Jika razia ini memang bertujuan untuk meminimalisir angka pencurian motor (curanmor), maka seharusnya dilakukan secara rutin dan terjadwal, bukan hanya muncul sesekali seperti badai musiman. Penegakan hukum tidak boleh setengah-setengah. Hari ini ditindak, besok hilang—itu bukan bentuk ketegasan, tapi inkonsistensi yang merusak kepercayaan publik.
Sungguh ironis ketika sepeda motor tua yang dipakai ngarit rumput demi makan sapi ditarik oleh negara atas nama hukum, sementara kendaraan mewah tanpa pelat atau yang memamerkan knalpot bising kadang melenggang bebas di kota. Hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Penegakan aturan tanpa empati hanya akan melahirkan luka sosial.
Ini bukan pembelaan terhadap pelanggaran, tapi sebuah ajakan untuk menegakkan hukum dengan hati. Polisi tidak boleh egois. Dalam menjalankan tugasnya, ia harus menyeimbangkan antara ketegasan dan kepedulian. Karena pada akhirnya, rakyat bukanlah musuh negara, mereka hanya butuh dipahami.
Dan kita semua tahu, keadilan yang tidak manusiawi adalah ketidakadilan yang dibungkus rapi. (*)

Leave a Comment