Bangkalan Data Utama Feature Jatim Keagamaan Madura

Jejak Akhlak yang Tak Pernah Padam: Ribuan Jamaah Padati Haul ke-101 Syaikhona Kholil

BANGKALAN, beritadata.id – Di bawah langit pagi Bangkalan yang mulai hangat, arus manusia tak pernah putus mengalir menuju Masjid Syaikhona Muhammad Kholil di Desa Martajasah. Sejak matahari terbit, ribuan jamaah datang dengan satu tujuan: menghadiri Haul Akbar ke-101 ulama kharismatik Madura, Syaikhona Muhammad Kholil.

Mereka datang dari berbagai penjuru—dari pelosok Madura, kota-kota di Jawa, hingga luar pulau. Ada yang menempuh perjalanan berjam-jam, bahkan berhari-hari, demi bisa duduk sejenak di antara lantunan doa yang menggema di kompleks masjid dan pesarean.

Di tengah kerumunan, tak ada sekat. Semua larut dalam zikir, dalam harap, dan dalam kenangan atas sosok ulama besar yang jejaknya melintasi zaman.

Suasana haul tahun ini terasa lebih hidup. Tidak hanya dipenuhi tahlil dan doa bersama, tetapi juga menghadirkan ruang-ruang refleksi yang memperkaya pengalaman spiritual jamaah.

Di sudut area, pameran manuskrip karya Syaikhona Muhammad Kholil menarik perhatian. Lembaran-lembaran tulisan tangan itu menjadi saksi bisu kedalaman ilmu sekaligus keluasan pandangan sang ulama.

Ketua panitia yang juga dzurriyah (keturunan) Syaikhona Kholil, KH. Hasbullah Muchtaram, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan haul tahun ini memang dirancang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada ritual keagamaan, tetapi juga aspek sosial dan keilmuan.

“Ada bakti sosial, pemeriksaan kesehatan dan donor darah. Selain itu, kami menampilkan pameran Al-Qur’an tulisan tangan karya Syaikhona Kholil beserta tafsirnya,” jelasnya.

Menurutnya, pameran tersebut bukan sekadar menampilkan karya ulama besar, tetapi juga membuka ruang dialog akademik yang hidup.

“Dalam manuskripnya, Syaikhona Muhamad Kholil bahkan mengajak para ulama untuk ikut mengoreksi dan menyempurnakan tafsir yang beliau susun,” tambahnya.

Bagi sebagian pengunjung, pameran tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan jendela untuk memahami bagaimana tradisi keilmuan Islam dibangun dengan ketekunan dan kerendahan hati. Sikap terbuka terhadap koreksi itu terasa begitu relevan di tengah zaman yang serba cepat dan sering kali minim perenungan.

Rangkaian kegiatan haul juga diperluas dengan bakti sosial, layanan pemeriksaan kesehatan, hingga donor darah. Dimensi sosial ini memperlihatkan bahwa warisan ulama tidak hanya berhenti pada ajaran, tetapi juga pada praktik nyata kepedulian terhadap sesama.

Di tengah lautan jamaah, suara ceramah menggema, mengikat perhatian ribuan pasang telinga. Said Agil Husin Al-Munawar dalam tausiyahnya menegaskan bahwa kekuatan utama Syaikhona Kholil bukan hanya pada keluasan ilmunya, tetapi pada akhlaknya. Ia menggambarkan bagaimana dedikasi sang ulama telah menjadi fondasi penting bagi perkembangan pesantren di Nusantara.

Pesan serupa juga mengemuka dari para jamaah. Bagi mereka, haul bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang kontemplasi. Tentang kehidupan yang fana, tentang ilmu yang harus dijaga sanadnya, dan tentang akhlak yang semakin mendesak untuk dihidupkan kembali.

Di antara kerumunan, seorang tokoh masyarakat Madura, H. Khoirul Umam atau yang akrab disapa Haji Her, berdiri sambil mengamati jalannya acara. Baginya, haul ini adalah pengingat paling sederhana sekaligus paling dalam: bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta. Yang tersisa hanyalah amal dan akhlak.

“Sosok seperti beliau sangat langka,” ucapnya singkat, seolah mewakili perasaan banyak orang yang hadir hari itu.

Haul Akbar ke-101 ini pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Ia menjelma menjadi ruang hidup yang menghubungkan tradisi dan masa depan—menguatkan kembali nilai-nilai keislaman, memperluas wawasan, sekaligus merajut silaturahmi lintas daerah.

Di tengah dunia yang terus berubah, ribuan orang yang berkumpul di Martajasah hari itu seakan menyepakati satu hal: bahwa warisan terbesar seorang ulama bukan hanya ilmu yang ditinggalkan, tetapi akhlak yang terus dihidupkan. (Red)

Leave a Comment