Business Data Utama Jatim Madura Pertanian

Petani Tembakau Bangkit! H. Her Beberkan Cara Ulama Taklukkan Dominasi Pabrik


MADURA, beritadata.id – Perjuangan panjang para ulama di Madura dalam mengangkat kesejahteraan petani tembakau akhirnya membuahkan hasil. Hal itu diungkapkan oleh H. Her dalam sebuah pernyataan yang menyoroti perubahan signifikan nasib petani dalam beberapa tahun terakhir.

Ia mengisahkan, kondisi petani tembakau sebelumnya sangat memprihatinkan. Bahkan, merujuk pada pesan seorang kiai pada tahun 2022, petani kerap mengalami kerugian yang berkepanjangan.

“Kalau orang kita terus seperti ini, satu tahun untung, tapi tiga tahun rugi,” ujar H. Her, mengutip nasihat ulama.

Situasi tersebut berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Banyak wali santri yang kesulitan membiayai pendidikan anaknya—mulai dari membeli buku hingga seragam sekolah.

“Kenapa? Karena tembakaunya merugi. Satu tahun untung, tiga tahun rugi,” tegasnya.

Berangkat dari keprihatinan itu, para ulama kemudian berinisiatif mencari solusi konkret. Mereka menggalang kekuatan ekonomi dengan mengumpulkan dana secara kolektif untuk menyaingi dominasi pabrikan dalam menentukan harga tembakau.

Dana yang terkumpul pun tidak sedikit, mulai dari ratusan juta hingga miliaran rupiah, yang berasal dari berbagai pihak, termasuk kalangan pesantren.

Langkah tersebut terbukti efektif. Dalam empat tahun terakhir, menurut H. Her, kondisi petani tembakau berbalik arah menjadi lebih sejahtera.

“Alhamdulillah, empat tahun ini petani sudah untung terus,” ungkapnya.

Perubahan itu kini dirasakan nyata oleh masyarakat. Petani tidak lagi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, bahkan sudah mampu membiayai pendidikan anak, memperbaiki dapur, hingga membangun rumah.

H. Her menegaskan, capaian tersebut merupakan buah dari perjuangan para alim ulama yang konsisten memperjuangkan ekonomi umat.

“Ini adalah jasa para alim ulama. Mereka berjuang dan berkomunikasi untuk menyaingi pabrik-pabrik,” katanya.

Ia juga menyebut, kekuatan ekonomi yang dibangun tersebut murni berasal dari swadaya komunitas, khususnya jaringan pesantren, tanpa ketergantungan pada perbankan.

Kini, posisi pabrikan tidak lagi dominan seperti sebelumnya. Petani memiliki daya tawar yang lebih kuat karena adanya dukungan modal dari komunitas sendiri.

“Kontribusi pesantren dan gerakan ini luar biasa bagi perekonomian masyarakat,” pungkasnya. (Red)

Leave a Comment